Cerpen Rumah Tangga

Cerpen Rumah Tangga ~ Cerita Pendek berikut ini mungkin pernah dialami ibu rumah tangga yang terlalu khawatir suaminya nyeleweng, atau karena penasaran dengan nomor tertentu yang ada di handphone suami.
Cerpen Rumah Tangga
Cerpen Rumah Tangga "Salah Sambung"

Siang hari selepas menjemput anak-anaknya dari sekolah, ia beristirahat sejenak sambil mendengarkan lagu-lagu lembut. Baru saja ia merebahkan kepala, tiba-tiba handphonenya berbunyi. Tak terpampang nomor pemanggil di layar handphonenya, hanya tertulis Private Number. Siapa gerangan?


+ Halo, selamat siang

- Mbak!! Saya langsung to the point aja ya. Saya minta mbak untuk menjauhi suami saya! Jangan pernah hubungi dia lagi! Jangan pernah menelpon ataupun berkirim sms lagi!!

+ Maaf, Ibu .... (belum selesai ia mengucapkan kata-katanya)

- Tidak ada maaf-maaf!! Mbak ini seharusnya tau diri dong. Mbak sendiri juga sudah bersuami, sudah memiliki anak. Kenapa masih mengejar-ngejar suami saya? Hanya karena mengikuti ego yang mengatakan bahwa Mbak masih cinta sama suami saya, sebagai mantan pacar mbak dulu? Karena bayangan masa lalu yang belum hilang? Karena masalah di masa lalu yang belum terselesaikan? Bull shit itu semua!! Ngaca dong, Mbak!! Dulu kenapa mbak tinggalkan dia? Dulu kenapa mbak pilih orang lain yang sekarang menjadi suami mbak? Sekarang di saat mbak merasa perjalanan mbak dengan suami mbak sedang berliku dan kemudian bertemu dengan suami saya, mbak berharap dapat kembali dengannya? Bah!!! ..... Sunggu amat sangat tak tahu diri!!!!

+ Bu, tenang dulu bu ..... (sekali lagi suaranya terhenti oleh suara di seberang)

- Bagaimana bisa tenang?? Setiap hari mbak berhubungan dengan suami saya. Walaupun hanya lewat telpon dan sms. Tapi mbak tau apa akibatnya terhadap rumah tangga kami? Ada di ujung tanduk!!!! ... Dan itu semua gara-gara mbak yang dengan seenaknya menelpon tiap hari. Apa mbak nggak tahu?? Suami saya di kantor itu kerja, bukan hanya untuk terima telpon!! Padahal mbak sendiri juga kerja, kenapa nggak mikir sampe ke sana? Egois bener mbak ini. Hanya memikirkan kepentingan mbak sendiri tanpa memikirkan kepentingan orang lain

+ Bu bu bu .... (dengan cepat ia memotong pembicaraan) ...

- (Ibu penelepon terdiam sesaat)

+ Maaf ibu ... ibu mencari siapa? mungkin ibu salah sambung

- Apakah ini nomor sekian sekian sekian ??? Dengan mbak shinta?

+ Maaf ibu, ibu salah sambung. Nomornya berbeda 2 nomor di belakang dan saya bukan Shinta bu, saya Vira

- Oh maaf, maaf Mbak. Saya sedang kalut dengan permasalahan yang tadi telah saya lontarkan jadi tidak berpikir panjang.

+ Tidak apa ibu. Saya bisa mengerti perasaan ibu. Kalau ibu mau, ibu boleh bercerita kepada saya. Agar perasaan ibu lebih tenang

_ Aduh saya jadi malu Mbak Vira.

+ Tidak apa ibu. Kalau mau cerita, silakan. Saya siap mendengarkan

- Baiklah, begini mbak. Sudah beberapa bulan belakangan ini suami saya sering berhubungan lewat telpon dengan mantannya dulu. Saya sudah meminta baik-baik pada suami saya untuk menghentikan hubungan itu, suami saya menyetujuinya. Suami berhenti menghubungi mantannya. Tapi ternyata si mantan ini yang masih sering menelpon suami saya. Hampir tiap hari. Dan hanya pada saat hari kerja. Saya juga sudah minta baik-baik kepada suami untuk mengenalkan saya dengan si mantan. Dan si mantan menjawab bahwa dia tidak ingin berkenalan dengan saya. Secara tersirat malah dia mengungkapkan bahwa dia tidak ingin melihat saya

+ Koq aneh ya bu?

- Itu lah mbak, yang bikin saya bertanya-tanya. Ada apa koq sampai si mantan tidak mau berkenalan dengan saya, istri mantan pacarnya. Hati saya mulai meraba-raba, ada apa gerangan? sampai akhirnya muncul satu kesimpulan yang saya ambil dari cerita-cerita suami saya tentang percakapan mereka kalau mereka mengobrol di telpon. Bahwa si mantan ini masih mencintai suami saya, dan dalam hati kecilnya ingin kembali bersama, tapi terhalang oleh keadaan dimana mereka berdua sama-sama sudah berkeluarga.

- Tapi sampai saat ini suami ibu masih bersama ibu kan? Belum menunjukkan tanda-tanda yang bahaya?

+ Ya syukurlah sampai saat ini suami mengatakan bahwa dia tidak ada niatan sedikitpun untuk kembali ke mantannya.

- Kalo gitu seharusnya ibu tenang dong. Nggak perlu panik seperti tadi

+ Ya gimana mau tenang mbak. Kalau si mantan ini terus-terusan menghubungi suami. Awal-awalnya saya biarkan. Tapi lama kelamaan jengah juga. Siapa sih yang tidak cemburu melihat suaminya sering ditelpon wanita lain? Dalam hal ini mantan pacar lagi. Rasanya mendidih darah ini kalau melihat di history call handphone suami terdapat nomor si mantan

- Sudahlah bu. Yang penting kan suami ibu tidak menanggapi kemauan si mantan ini. Suami ibu masih bersama ibu kan?

+ Aduh mbak Vira, saya jadi tidak enak hati sudah melabrak orang yang salah. Padahal mbak baik seperti ini. Maafkan saya ya Mbak.

- Tidak apa-apa ibu. Mungkin tadi pikiran ibu sedang kalut. Mudah-mudahan sekarang ibu bisa lebih tenang ya.

+ Baiklah mbak Vira. Sudah dulu ya. Terima kasih sudah mau mendengarkan cerita saya. Dan sekali lagi maaf atas kelancangan saya tadi.

- Tidak apa-apa ibu. Mudah-mudahan permasalahan ibu ini bisa cepat selesai ya bu.

+ Selamat siang mbak

- Selamat siang bu



Setelah menyudahi pembicaraan, segera ia bangkit dan menuju kamar mandi. Mengambil air wudhu dan sholat. Kemudian ia berdoa "Ya Allah, ampuni hambaMu yang telah khilaf dan hampir salah jalan. Terima kasih telah Engkau kirimkan peringatan melalui seorang ibu yang telah salah menekan nomor. Ampuni hamba ya Allah. Hampir saja hambaMu membawa keluarga hamba menuju kesengsaraan. Alhamdulillah, Engkau masih menyayangi hamba dengan memperingatkan hamba". Tanpa terasa air mata mengalir di kedua pipinya.

Setelah selesai dengan doanya, ia segera mengambil handphone-nya dan mengirimkan sebait kata-kata kepada seseorang. Kali ini tanpa linangan air mata karena hatinya sudah mantap.

"Mas, maafkan saya yang telah khilaf selama ini. Mulai detik ini, saya tidak akan mengganggu kehidupan rumah tangga mas lagi. Terima kasih waktu mas untuk diriku selama ini. Salam untuk mbak Enya. Sampaikan maafku karena telah mengganggu suaminya. Selamat tinggal"


Semoga "Cerpen Rumah Tangga" di atas memberi manfaat buat anda, dapat membawa hikmah positif bahwa setiap akan melakukan tindakan harus benar-benar dipikir secara matang. Salam Cerpen...

Baca Selengkapnya »

Tentang Kami

Kami adalah sekelompok remaja yang demen banget mengkoleksi cerpen (Cerita Pendek) dari berbagai karya cerpen-cerpen terbaik. Sebisa mungkin kami akan menyajikan cerpen terbaik dari berbagai kategori seperi cerpen cinta, cerpen romantis, cerpen persahabatan, kesedihan, perjuangan, nasionalisme, cerpen sejarah dll.

Untuk itu, kami meminta dukungan kepada anda semua pengunjung blog cerpen terbaru ini untuk ikut berpartisi pasi jika anda punya cerpen atau hobi bikin cerpen, kirimkan cerpen kamu ke menu kirim cerpen.

Sekian dari kami, salam Cerpenista!

Baca Selengkapnya »